Malam itu aku sandarkan semua rasa sedih, rindu,dan amarahku. Lalu aku diam meneteskan air mata yang entah itu pertanda sedih atau bahagia aku tak bisa membedakan air mata yang keluar dari mataku ini ,semua seperti tak bisa di jelaskan lagi, sudah terlalu sering aku meneteskan air mata, lebih tepatnya air mata rindu. Maaf bukannya aku mengeluh selalu tapi aku juga sama seperti pasangan yang lainnya sama-sama sering merasakan rindu di batas waktu yang tak ku inginkan,dibatas asa, dibatas angan dan di batas segalanya. Bahkan waktu peretmuanpun memiliki makna yang terbatas, air mata itu sekarang tak berharga lagi tak seperti dulu saat jarak tak memisahkan,,bukan maksudku juga untuk mempermasalahkan jarak dan yang lainnya tapi setidaknya kau dengar apa yang aku keluhkan lalu pahami dan temukan solusinya agar aku tak terus mengeluh dan kau tak jenuh dengan pembahasaan yang setiap harinya masih itu-itu saja. Aku tau kau lelah mendengar celotehan yang mungkin masih itu-itu saja tapi pintaku hanya kau mengerti,kau merasakan dan kau mau meredam semua apa yang aku keluh kesahkan, bukan saat aku mengeluh dan kau mnegeluhkan aku yang mengeluh , mungkin itu ego kita. kita yang sama lelah menunggu pertemuan....
Karena kau lelah mempermasalahkan aku yang mengeluh saja mungkin kamu berfikir diam dan mendengarkan mungkin mampu membuatku diam dari celotehanku itu, mungkin pikiranmu seperti itu ya kan, sayang??? aku bisa membaca dari sisi raut mukamu dan tingkahmu yang menjelaskan "aku lelah sebaiknya aku hanya mendengarkan" . Sunggguh kediamanmu itu bukan penyelesaian masalah kita saat ini, aku butuh kau bicara, bicara sesingkat mungkin tap dapat meyakinkan aku dan dapat menenangkan aku disaat jarak menghalangi aku butuh keyakinan itu. Aku tak butuh kau berbicara panjang lebar namun itu hanya opinimu saja itu percuma sayang itu hanya akan membuang waktu yang kita miliki saja. Yakinkan aku berbicaralah karena diam bukan solusi saat kau lelah ..
Ketika aku bicara panjang lebar mengenai kediamanmu itu kau memang menyimak semuanya tapi kau tak memahami apa yang aku bicarakan , itu sama saja membuang-buang waktu. Bukankah disini kita harus sepintar mungkin membagi waktu dan memanfaatkan waktu kosong yang ada. Waktu kosong kita itu hanya habis oleh perdebatan yang itu-itu saja dan tak ada penyelesaian sayang, kita lupa percakapan romantis, kita lupa waktu bercanda walau hanya melalui sosial media atau bahkan pesan singkat kita lupa semua itu, kita hanya mempermasalahkan yang seharusnya tidak selalu di persalahkan. kita mempermasalahkan sesuatu yang tak berwujud seperti jarak dan waktu, mereka memang ada namun tak berwujud sayang... Tak pantas jika mereka selalu disalahkan dan disudutkan, seharusnya kita yang bisa .................... Ah yasudahlah....
Itu sudah menjadi santapan kau dan aku mungkin , menyalahkan mereka yang tak begitu bersalah, jika mereka berwujud dan bisa mengungkapkan sesuatu mungkin mereka akan mengukapkan yang tak pernah ada di pikiran kita seperti " jangan salahkan aku (jarak) dan dia (waktu) kami tak bersalah di antara kalian kami hanya penerang jalan kalian yang akan membawa kalian kepada keadaan yang lebih layak kelak, kami tak bermaksud memisahkan kalian, ini memang jalannya harusnya setiap orangpun merasakan ini bukan hanya kalian, aku yakin kelak kau akan memetik semuanya dengan manis dan sesuai dengan yang kau harapkan, berhentilah mengeluh" yaaaa mungkin seperti itu, aku tak paham dan aku tak dapat mengira-ngira.
Suatu waktu aku berfikir dan tersadar bahwa pada akhirnya jarak dan waktu juga yang akan mempertemukan aku dan kamu kembali, tak sepatutnya mereka terus disalahkan, dengan argumen itu saya kembali yakin dan mungkin akan mengurangi jam-jam mengeluh, karena dengan mengeluhpun tak 100% bisa sempurna , bersabarlah jarak dan waktu itu teman kita :'))
Saling menguatkan , Saling meyakinkan , Saling menyadari yang jauh disana sedang berkerja demi kita disini, demi hidup bersama kelak :'))
keyen ihh yang ini .. :')
BalasHapus